Kamis, 29 Maret 2012

Penelitian tentang Ketertarikan Jenis: CINTA

       Masa SMA! Ya, masa dimana remaja sangat rentan mengalami suatu ketertarikan. Ketertarikan itu sendiri muncul karena adanya rasa ingin tahu yang tinggi. Banyak sekali macam-macam ketertarikan di muka bumi ini. Apalagi di masa SMA. Sempat aku menjalani sebuah pnelitian kecil tentang ketertarikan yang dialami oleh temen-temen sekolahku. Setelah berhasil mengumpulkan data, kesimpulan yang dapat ditarik dari penelitian tersebut ialah, ketertarikan di masa SMA mayoritas adalah ketertarikan terhadap lawan jenis mereka. atau bahasa gaolnya, JATUH CINTA.

      Penelitian yang aku jalani ialah melalui sistem voting. Ada suka dukanya saat mencari suara para siswa disekolahku. Kebanyakan, siswa yang saya tanyai malu bukan main, tapi hal itu dapat dihasut dengan 5000 rupiah saja. untung saja rasa malu mereka 5000an ga lebih. Ada juga siswa yang sangat abnormal menurutku. Diliat dari segi tampangnya yang cupu tingkat dewa memberikan suara yang sangat sulit dinalarkan oleh apapun, Yah, siswa itu tak lain adalah EDWIN. Saat ditanyai ketertarikan macam apa yang kamu rasakan di SMA ini, ekspresi wajah mirip shinchan lagi seneng liat komik dewasa terlihat jelas dimukanya. wajah merah, senyum nyengir. Persis sekali. Lalu perlahan, ia berbicara "aaa-aaku tertarik sama KUCING! hihikk!" mendegar perkataan entah sengaja apa tidak yang jelas barusan kepalaku terasa dihujani keringat ketiak yang belum diolesi deodoran selama 1 dekade. "Kaa-kamu suka KUCING?" nadaku meyakinkan. "Iyaa, aku tertarik sama KUCING" dan seketika itu, aku langsung berdiri lari menuju tong sampah terdekat lalu muntuh sekuat tenaga. Muncul dugaan-dugaan dalam otakku(para pembaca tentu tau kan?). Tapi karena kepolosan EDWIN yang selalu sedia aku porotin pulsa modemnya dugaan-dugaan itu aku paksa pergi dari otakku(saya anak baik, tidak sombong dan suka menabung).

          Bukan berarti aku yang melakukan penelitian, aku tidak merasakannya juga. Hey ! aku 16 tahun, Udah dewasa, nyuci baju sendiri, jemur baju sendiri, dan boker juga aku lakukan sendiri(emang kamu kira aku apa?--) Semua perasaan yang pernah datang dan singgah di hatiku, aku haragai itu semua. tak terkecuali CINTA. Dan mungkin kalo dibandingkan pake kelas-kelas kamar di hotel bintang lima, Si Cinta aku kasi kamar VIP Precident. Tapi sedikit aku menyesal, karena aku mengabiskan waktuku nyantren di ujung tumit gunung welirang. Tapi, tak apalah, penyesalanku sudah terobati oleh muka muka taylor swift dan demi lovato berkerudung yang berceceran disini. Dan aku akan sedikit berbagi cerita kepada kalian semua tentang pengalaman cinta-mencintai ku selama di pesantrenku ini.

        Dia ber-inisial M. biasa aku panggil Mbek. Kami pertama kali kenal, waktu ketemuan sama anak generasi di royal tepatnya. Pertama bertemu, kesan biasa. Tidak ada rasa yang menonjol waktu pertama bertemu semua seakan berjalan tetap digarisnya. Karena rasa ingin menjalin pertamananku yang menjulang tinggi mengalahkan gedung pecakar langit, akhirnya aku mencari kawan smsan. Eh, teryata dia. Entah kenapa dia yang paling nyambung diajak ngobrol ketimbang yang lain. Walau terkesan agak sinis pertama, justru itu timbul difikiranku sifat anak asik dan gokil. Dan ternyata benar, beberapa bulan kami menjadi dekat dan dekat. hingga bisa dikatakan status hubungan kita hampir sahabat. Aku pun mulai mengenali dirinya lebih jauh dan dalam. Mengenal dirinya sebagai pecinta berat coklat, Dia jijik banget sama yang namanya boyband dan tahu bahwa dia ngefans berat sama temen sekelasnya waktu smp. Akupun sudah terbiasa membaca apa yang ia rasakan saat ia membalas semua smsku. Mungkin semua ini terlalu dekat hingga perasaanku mengatakan "Dia lah yang selama ini kau nanti".

            Aku masi berusaha menafsirkan apa yang dikatakan perasaanku barusan. Mencoba meresap satu demi persatu maksud hati. Aku menghela nafas panjang. Masi dalam keadaan yang bimbang. Tapi sedikit demi sedikit aku melihat sebuah pencerahan. Pencerahan bahwa mengatakan yang sesungguhnya  kepadanya adalah jalan satu-satunya untuk keluar. Setelah mengutarakan dengan apik, akupun tinggal menunggu. Dia berhenti sejenak. Memperbaiki irama nafasnya yang cepat. Dan dia juga menjelaskan dengan rapi dan tidak menyinggung. Aku pun berusaha menyamai derah nafasnya. Mencerna secara peralahan setiap kata yang ia ucapkan. Saat dia mengakhiri ucapannya dengan kata "maaf" aku menalan ludah, Meyakinkan kalo ini bukan mimpi, bukan halusinasi dan bukan juga fatamorgana. Dan sejak saat itu, saat semua berlangsung begitu saja. Kini status yang sebelumnya hampir bersahabat kini telah berubah menjadi SAHABAT.

4 komentar:

  1. aku tau dan aku sadar, tapi namaku yang udah bejat disana harus membuat ini terlihat jelasa ! bahwa aku PERNAH merasakan tulisan itu cuk :D

    BalasHapus
  2. okelah, terserah kakek. :)
    aku kan skedar ngoment, hhe..

    BalasHapus